Diposkan pada Untold story

Saya…

Setiap manusia memiliki sejarah kelam yang mungkin masih dan akan selalu menghantui setiap langkah hidupnya, termasuk saya. Usia saya baru 11 kala itu, ketika mengetahui pengkhianatan seorang ayah yang selalu saya banggakan. Anak kecil yang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi tetapi sesuatu berbisik bahwa ada hal tidak patut yang sedang berjalan, perselingkuhan. Tidak paham apa yang harus dilakukan, berakhir disimpan seorang diri. Namun, sepandai-pandainya menyimpan bangkai pasti akan tercium juga baunya, bukan? Begitu pula dengan bau busuk seorang ayah yang berusaha ditutupi. Dan mimpi buruk itu terjadi. Pertengkaran seakan menjadi suatu rutinitas didalam rumah, tempat yang seharusnya menjadi tempat ternyaman tapi justru menjadi momok yang memuakkan bagi saya. Cacian, makian, teriakkan, sumpah serapah, menjadi alunan selamat pagi dan selamat tidur. Tahu tidak apa yang paling menyayat hati? Mendengar wanita yang melahirkan saya menangis dan merintik memohon ampun tetapi bajingan itu tidak berhenti melayangkan pukulan dan tamparan, alih-alih denting pecahan kaca menggema kepenjuru rumah. Apa yang saya lakukan? Tidak ada, tidak memiliki daya apa pun. Marah? Jelas, kecewa? Sudah pasti. Bukan kah manusia itu yang salah? Harusnya ia yang dipukul, dicaci dan dimaki. Lantas mengapa justru sebaliknya? Apa karena wanita dianggap makhluk lemah? Lucu sekali hidup ini. Seringkali saya mendengar percakapan larut malam antara ibu dan kakak pertama saya, ia bercerita bahwa ia sudah lelah dan ingin bercerai, namun diurungkan karena tidak ingin melihat saya menjadi anak broken home, detik itu juga, ingin rasanya saya bangun dan berteriak “bercerai saja tidak usah memikirkan saya”, tetapi sisi egois menahan saya untuk melakukannya dan mendorong saya untuk tetap berpura-pura tidak paham apapun. Terkadang, dimasa-masa berat itu, ada saat dimana saya berpikir untuk mengakhiri semuanya. Lelah dan muak melihat lelaki itu dengan segala kemunafikan dan ke-tidak-tahu-diri-an yang ditampilkan, tetapi saya tidak bisa berbuat apa pun, darahnya mengalir dalam diri saya, terkadang saya merasa jijik dengan kenyataan itu. Tetapi hanya bisa berusaha meredam semua emosi yang bergejolak. Tetap berusaha bersikap ceria seolah-olah tidak ada yang membebani pikiran saya. Namun saya akui apa yang saya lakukan adalah salah. Memendam emosi tidak seharusnya saya lakukan karena berujung menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja saat pemantiknya disulut. Setelah bertahun-tahun pun rasa sakit dan kecewa akan pengkhianatan masih menghantui hidup saya. “Haruskah saya tidak usah menikah nantinya? Haruskah?” Pertanyaan semacam itu selalu menghantam kesadaran saya. Sungguh saya lelah memiliki trauma semacam ini.

Sebanyak dan sekuat apa pun saya mencoba menjalin hubungan dengan lelaki, selalu berakhir sama saja, tidak peduli sebaik apa pun mereka. Saya tidak pernah merasa puas, selalu merasa kurang yang berujung kecewa. Saya menyadari bahwa saya memproyeksikan ketidaksempurnaan seorang ayah kedalam imajinasi pasangan ideal, semacam menciptakan sosok ideal dan hubungan ideal didalam pikiran saya sendiri. Secara sadar menuntut pasangan untuk menjadi apa-apa saja yang saya mau dan ketika mereka tidak mampu memenuhi mau saya, maka saya akan kecewa dan memilih mengakhirinya begitu saja. Saya pikir perselingkuhan adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dimaafkan. Namun kenyataanya, bahkan, ketika pasangan saya tidak berselingkuh, saya masih memiliki banyak list yang membuat hubungan kami harus tetap berakhir dengan tidak baik. Dulu, saya selalu menimpalkan kesalahan pada mereka, tetapi seiring berjalannya waktu, saya sadar, bukan pada mereka letak kesalahannya melainkan ada pada diri saya sendiri. Ketika saya mengetahui bahwa ada yang salah dengan diri saya, itu cukup membuat saya terpukul. Menyalahkan diri sendiri dan orang-orang dari masa lalu yang menurut saya ikut andil membuat saya menjadi seperti ini. Namun, saya sadar, menyalahkan siapa pun tidak akan mengubah hal-hal yang sudah terjadi dan tidak akan memulihkan saya seperti sedia kala. Jadi, yang saya lakukan saat ini hanya mencoba menerima apa-apa saja yang sudah Tuhan takdirkan untuk terjadi. Sembari berusaha untuk memaafkan dan berdamai dengan semua ingatan yang tidak mengenakkan. Belajar menerima diri sendiri dan memperbaiki diri sampai saat datang lelaki yang mampu mengubah pandangan saya terhadap komitmen atau pun pernikahan.

Saya pikir, Tuhan tidak pernah gagal dalam menciptakan skenario luka untuk setiap hamba-Nya, karena dari luka kita belajar memandang hidup dengan lebih dewasa. Dan saya rasa dengan menjadi saksi hidup dari ke-tidak-harmonis-an sebuah keluarga, khususnya dalam pernikahan, membuat saya paham bahwa cinta bukan alasan utama untuk melangkah ke bahtera rumah tangga. Banyak yang harus dipersiapkan, pekerjaan yang mapan, penghasilan yang mencukupi, kedewasaan secara mental, kesamaan visi dan misi, merupakan beberapa hal yang harus terpenuhi sebelum mengikat janji diatas nama Tuhan. Dan saya rasa, menciptakan tipe pasangan ideal tidak ada salahnya, dengan syarat tetap menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Sehingga, paling tidak, akan ada sedikit toleransi untuk saling memahami dan menerima kekurangan masing-masing.

Diposkan pada Untold story

Untuk Kamu yang Sempat Singgah

Hai, apa kabar?

Kamu paham, saya selalu berdoa agar kamu sehat dan bahagia selalu

Jujur, saya tidak tahu harus memulai dari mana dan bagaimana

Saya bingung,

Kamu dan saya tidak pernah menjadi kita. Pun tidak bisa dikatakan selesai karena memang belum memulai. Namun, kamu dan saya sama-sama paham bahwa ada benang yang sudah melewati batas. Meski tidak ada janji yang mengikat

Seperti analogi yang selalu terucap “biarkan mengalir seperti air”. Kamu dan saya sebagai air. Mengalir melewati apapun didepan sana. Hingga sampai dipersimpangan yang mengarah ke muara berbeda. Hanya ada dua pilihan: memblokade satu persimpangan agar tetap mengalir searah atau dibiarkan mengalir ke muara yang berbeda. Namun rasanya, pilihan pertama terlalu mustahil bukan? Dan saya paham itu

Tidak ada yang saya sesali, sungguh. Jadi, tidak perlu ada rasa bersalah yang bersarang. Saya tidak berkata bahwa saya tidak merasa sakit atau pun kecewa. Saya hanya manusia biasa

Satu hal yang ingin saya sampaikan. Hadirmu pernah amat sangat saya syukuri. Terimakasih sudah pernah bertamu. Terimakasih sudah pernah berbagi cerita dan rahasia. Meski singgahmu sesingkat hujan dibawah terik mentari. Percayalah, kamu sudah mengajariku banyak hal tentang hidup, rasa sakit, dan ketulusan.

Terakhir, saya harap hari-harimu akan selalu menyenangkan. Meskipun terdengar mustahil tapi apa salahnya membuat permohonan yang mustahil ini. Siapa tahu saat saya berucap, ada bintang jatuh diluar sana

Selamat tinggal

Sampai jumpa di lain waktu

Saya harap bisa tetap menjadi teman baik dimasa yang akan datang

Diposkan pada What's in mind

Virginity atau keperawanan

Apa yang terlintas ketika mendengar kata “keperawanan”? Something precious or just an ordinary thing? (Sesuatu yang berharga atau sekadar sesuatu yang biasa saja?)
Saya ingin sedikit berbagi opini mengenai virginity karena beberapa hari yang lalu seseorang menanyakan hal ini kepada saya, bertanya tentang status keperawanan seseorang lebih tepatnya. Tulisan saya bukan untuk menghakimi siapa pun, ini hanya opini dan sudut pandang yang didasarkan murni pada pemikiran saya bukan atas dasar agama atau norma sosial yang berlaku. Jadi, kita bisa saja memiliki pandangan yang berbeda mengenai hal ini.

Sebenarnya apa sih keperawanan itu?

Mengapa identik dengan perempuan?

Mengapa ada beberapa orang yang mendewakan keperawanan dan menjadikannya tolok ukur atas baik/buruknya karakter seseorang?

Banyak sekali stigma dan pertanyaan yang terlintas dipikiran saya saat memikirkan kata perawan. Secara umum, keperawanan kuat kaitannya dengan selaput dara atau hymen (jaringan serabut yang terletak dimulut vagina), robeknya selaput dara seringkali menjadi indikasi hilangnya keperawanan seseorang. Banyak faktor yang bisa menyebabkan selaput dara robek seperti benturan keras, berkuda, senam dan lain-lain, bukan hanya dikarenakan berhubungan seksual.

Lantas saya kembalikan lagi, apa definisi “kehilangan keperawanan” atau “tidak perawan lagi” menurut kalian? Jika indikasinya adalah selaput dara yang robek lantas mayoritas atlet sudah tidak perawan karena mereka hampir setiap hari olahraga berat yang besar kemungkinannya merusak lapisan selaput dara, atau ketika kita cebok dengan tekanan shower yang terlalu kuat ini juga bisa menjadi sebab rusaknya hymen. Namun, rasanya terlalu dangkal jika rusaknya hymen dijadikan sebagai indikasi hilangnya keperawanan perempuan. Saya pribadi menganut kepercayaan bahwa hilangnya keperawanan atau tidak perawan lagi adalah ketika ada penetrasi dengan penis secara langsung atau berhubungan seksual (maaf).

Lantas muncul pertanyaan, salah tidak pasangan yang melakukan hubungan seksual sebelum menikah? Berdosa tidak? Saya tidak memiliki kapasitas untuk menghakimi salah atau tidaknya seseorang. Jika dipandang dari sudut pandang agama, ya memang benar itu salah dan berdosa tetapi saya tidak sedang menjadikan agama sebagai landasan opini saya sekarang. Sebenarnya kembali lagi kepada sudut pandang mengenai makna keperawanan bagi individu itu sendiri. Ada beberapa perempuan yang berpikir bukan suatu masalah untuk berhubungan seksual sebelum menikah karena bisa jadi mereka percaya bahwa itu adalah bukti cinta. Ada pula perempuan yang berpegang teguh menjaga keperawanan mereka hingga sah menjadi istri. Mana pandangan yang paling benar? Menurut saya keduanya sah-sah saja, kembali lagi pada prinsip hidup yang dianut. Semua pilihan dalam hidup memiliki konsekuensi tersendiri dan saya pikir, mereka, khususnya perempuan, sudah memikirkan konsekuensinya matang-matang.

Jika ditanya prinsip manakah yang saya anut; jika Allah menghendaki, saya ingin menjaganya untuk lelaki yang menjadi partner hidup saya. Bukan berarti saya menghakimi orang-orang yang menghalalkan seks diluar nikah adalah salah, kembali lagi itu adalah pilihan. Hanya saja, saat melakukan hubungan seksual maka akan ada attachment lebih mendalam dengan pasangan dan saya tidak ingin terlalu attach dengan seseorang yang belum tentu menjadi partner hidup saya.

Satu hal yang menjadi concern saya adalah pandangan masyarakat yang menjadikan keperawanan sebagai tolok ukur baik atau buruknya seseorang. Saya amat sangat tidak setuju dengan stereotip semacam ini. Menjaga keperawanan bukan berarti lebih baik dari yang lain. Pun mereka yang memilih hidup bebas bukan berarti manusia kotor dan hina. Berhenti menghakimi seseorang hanya karena memiliki pilihan dan pandangan hidup yang berbeda dengan kita. Perawan atau tidaknya seorang perempuan tidak mengurangin esensi atau nilai sebagai manusia yang harus tetap dihargai dan dihormati pilihan dan pandangan hidupnya.

Terimakasih, semoga kita semua senantiasa menjadi manusia yang tidak merendahan manusia lain agar terlihat baik.

Semoga hari kalian selalu menyenangkan 🙂

Diposkan pada What's in mind

Ketidakpastian

Dari banyak ke-hampirsajaan dan keragu-raguan yang sudah berlalu
Saya mulai paham bahwa sebenarnya tidak ada “hampir” dan “ragu” di dunia ini
Jika seseorang membuatmu bimbang hingga timbul ragu, maka segera tinggalkan
Ia ditakdirkan bukan untukmu
Tidak usah mengelak, sesungguhnya kamu tahu yang saya katakan adalah benar adanya
Bukan meramal apalagi membaca pikiran, hanya saja saya pernah berada diposisi itu.

Jika ia adalah sosok yang ditakdirkan Tuhan untukmu. Maka, tidak mungkin akan ada ragu yang menyelusup. Jika ia benar-benar jatuh hati padamu. Seyogyanya, ia tidak mungkin sampai hati membuatmu bergumul dengan ketidakpastian. Sudahlah, berhenti mencari pembenaran atas hal-hal yang sudah jelas. Berhenti membuat diri sendiri terjebak dalam sesak

Teruntuk kamu yang sedang bergulat dengan bimbang dan ragu atas sebuah kepastian. Saya ingin menyampaikan sebuah pesan

“Jiwamu terlalu cantik dan berharga untuk memohon sebuah pengakuan dari sosok yang tidak pantas bersanding denganmu, dan hatimu terlalu tulus untuk ia yang hanya sekadar modus. Lepaskan, biarkan dirimu bermetamorfosis menjadi versi paling indah. Berhenti mengungkung diri dalam sangkar yang tidak pernah membuatmu berkembang. Dunia terlalu sempurna untuk dilewatkan, apalagi terkekang dengan sakit hati dan cinta yang belum pasti, sayang”